Ada satu pesan dari Rois Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, yang terus terngiang dalam ingatan saya:
“Wahai Pejuang, Kurangi Tidurmu!”
Semakin lama saya menjalani amanah perjuangan, semakin terasa bahwa kalimat sederhana ini menyimpan makna yang dalam. Dulu, mungkin saya menangkapnya sebatas ajakan untuk mengurangi tidur dan memperbanyak ibadah malam. Namun, ketika amanah semakin besar dan persoalan semakin beragam, saya mulai melihat pesan ini dari sudut pandang yang berbeda.
Jangan-jangan, ada hubungan erat antara beratnya amanah yang kita pikul dan kebutuhan kita untuk semakin mendekat kepada Allah.
Amanah Membuat Saya Mengenali Keterbatasan Diri
Dalam perjalanan perjuangan, ada kalanya saya menerima amanah yang terasa lebih besar daripada kemampuan yang saya miliki. Tanggung jawab datang, sementara pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan saya belum tentu cukup untuk menjawab semua tantangan yang menyertainya.
Pada saat seperti itu, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa semangat saja tidak cukup. Niat baik perlu ditopang ilmu, kesungguhan perlu disertai kemampuan, dan kerja keras tetap membutuhkan pertolongan Allah.
Saya mulai memahami bahwa menjadi pejuang bukan berarti selalu merasa mampu. Justru, ada saat-saat ketika amanah membuat kita menyadari betapa terbatasnya diri ini.
Kesadaran itu semestinya tidak membuat kita berhenti melangkah. Ia mengajak kita belajar lebih sungguh-sungguh, membuka diri terhadap nasihat, memperbaiki cara bekerja, dan tidak malu mengakui kekurangan.
Namun, ada satu hal yang terasa lebih mendasar: ketika kemampuan diri tidak lagi terasa cukup, kepada siapa kita menggantungkan harapan?
Bagi saya, pertanyaan itu membawa kembali pada kesadaran tentang hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Ada Kebutuhan yang Tidak Bisa Dipenuhi oleh Kesibukan
Siang hari, kita bisa mengerahkan pikiran, tenaga, dan waktu untuk menyelesaikan berbagai urusan. Kita menyusun rencana, menghadiri rapat, membangun komunikasi, mencari solusi, dan berusaha memastikan amanah berjalan sebagaimana mestinya.
Semua itu penting. Namun, saya merenung, apakah kesibukan tersebut selalu berjalan seiring dengan kedekatan kita kepada Allah?
Terkadang, begitu banyak hal yang kita pikirkan untuk perjuangan, tetapi begitu sedikit waktu yang kita sediakan untuk bersimpuh kepada Zat yang menjadi tujuan perjuangan itu sendiri.
Kita berusaha mencari jalan keluar dari berbagai persoalan, tetapi sudahkah kita menyediakan waktu untuk memohon petunjuk-Nya? Kita memikirkan bagaimana amanah dapat ditunaikan dengan baik, tetapi sudahkah kita sungguh-sungguh meminta pertolongan agar diberi kekuatan untuk menjalaninya?
Bukan berarti setiap persoalan harus menunggu jawaban melalui ibadah malam. Bukan pula berarti kesibukan adalah sesuatu yang keliru. Saya hanya merasa perlu mengingatkan diri sendiri bahwa ada kebutuhan ruhani yang tidak dapat digantikan oleh padatnya aktivitas.
Mungkin inilah salah satu makna yang semakin saya rasakan dari pesan beliau: perjuangan bukan hanya membutuhkan kesibukan pada siang hari, tetapi juga kesungguhan mendekat kepada Allah pada malam hari.
Malam, Saat Seorang Pejuang Kembali Menjadi Hamba
Saya membayangkan malam sebagai ruang untuk menanggalkan sejenak segala kesibukan dan kembali menempatkan diri sebagai seorang hamba.
Di hadapan Allah, kita tidak perlu terlihat selalu kuat. Kita tidak harus menyembunyikan kegelisahan atau berpura-pura mampu menghadapi semua persoalan. Kita datang dengan segala keterbatasan, membawa harapan, mengakui kekurangan, dan memohon agar diberi petunjuk.
Salat lail, tilawah Al-Qur’an, istigfar, dan doa menjadi bagian dari ikhtiar untuk merawat hubungan itu.
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79).
Ayat ini mengingatkan saya bahwa malam memiliki kedudukan penting dalam perjalanan penghambaan. Ada kesempatan untuk menata niat, memohon pertolongan, dan memperkuat hati sebelum kembali menghadapi berbagai urusan.
Saya pun menyadari bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar mengurangi jam tidur, melainkan menyediakan ruang yang sungguh-sungguh bagi hubungan dengan Allah. Tentu, kebutuhan istirahat tetap perlu dijaga agar amanah dapat dijalankan dengan sehat dan berkelanjutan.
Sebab, yang ingin kita bangun bukan hanya ketahanan fisik dalam perjuangan, melainkan juga keteguhan ruhani yang menopang perjalanan panjang pengabdian.
Pesan yang Terus Mengajak Saya Bercermin
Kini, ketika mengingat kembali kalimat “Wahai Pejuang, Kurangi Tidurmu!”, saya merasa pesan itu lebih tepat saya tempatkan sebagai ajakan untuk bercermin daripada sekadar nasihat kepada orang lain.
Sudahkah saya menempatkan ibadah sebagai kebutuhan, bukan hanya sebagai selingan di antara kesibukan? Sudahkah amanah yang saya pikul membuat saya semakin sadar akan keterbatasan diri dan semakin membutuhkan pertolongan Allah?
Saya belum tentu mampu menjawab semua pertanyaan itu dengan memuaskan. Namun, mungkin memang demikian seharusnya sebuah pesan perjuangan bekerja: bukan membuat kita merasa telah sampai, melainkan terus mengajak kita memperbaiki langkah.
Saya juga teringat bahwa amanah tidak cukup dijalankan dengan semangat. Kita perlu meningkatkan kompetensi, membangun kerja sama, dan memperbaiki tata kelola. Tetapi semua ikhtiar itu hendaknya berjalan bersama kesadaran bahwa kita tetap membutuhkan bimbingan dan pertolongan Allah.
Dari sini, saya ingin belajar memaknai perjuangan secara lebih utuh. Siang menjadi kesempatan untuk bekerja dan menunaikan amanah. Malam menjadi kesempatan untuk memperbarui niat dan memohon kekuatan. Keduanya saling melengkapi dalam perjalanan seorang hamba.
Semoga pesan Rois Aam ini tidak berhenti sebagai kalimat yang kita ingat atau kutipan yang kita bagikan. Semoga ia perlahan menjadi kesadaran yang menuntun kita menata waktu, memperbaiki ibadah, dan menjalankan amanah dengan lebih baik.
Saya menuliskan refleksi ini terutama sebagai pengingat bagi diri sendiri. Jika ada manfaatnya, semoga ia juga menjadi teman renungan bagi saudara-saudara seperjuangan.
Wahai Pejuang, Kurangi Tidurmu!
Semoga kita tidak hanya memiliki keberanian untuk memikul amanah, tetapi juga kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan; tidak hanya memiliki kesungguhan untuk bekerja, tetapi juga kerinduan untuk bersujud; dan tidak hanya bersemangat memulai perjuangan, tetapi terus memohon pertolongan Allah agar mampu menjalaninya hingga akhir.
Sebab, semakin berat amanah yang kita pikul, semakin kita perlu menyadari bahwa kita bukanlah sumber segala kekuatan. Kita hanyalah hamba yang berikhtiar, berharap, dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Beberapa waktu lalu, saya mendapat amanah untuk mengampu sebuah kajian berseri tentang tauhid. Tema ini tentu sangat penting karena tauhid merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Cara seseorang memandang Allah akan memengaruhi cara ia memandang dirinya, pekerjaannya, keluarganya, rezekinya, bahkan masalah-masalah yang datang dalam hidupnya. Karena itu, saya memandang kajian tauhid bukan sekadar kajian tentang konsep ketuhanan, tetapi kajian tentang bagaimana seorang Muslim menjalani seluruh kehidupannya dengan kesadaran bahwa Allah adalah pusat dari segala sesuatu.
Meski demikian, saya tidak langsung menyetujui permintaan tersebut. Saya justru meminta waktu untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan takmir masjid. Bagi saya, materi yang baik tidak cukup hanya disiapkan berdasarkan apa yang ingin disampaikan oleh seorang dai, tetapi juga harus mempertimbangkan siapa yang akan mendengarkan. Masjid adalah ruang umat yang sangat terbuka. Jamaah datang dari latar belakang pendidikan, organisasi, tradisi keagamaan, usia, pengalaman, bahkan tingkat pemahaman agama yang berbeda-beda. Keragaman itu harus dibaca dengan baik sebelum menentukan bagaimana sebuah materi disampaikan.
Ada satu hal yang sejak awal menjadi perhatian saya, yaitu adanya stigma tertentu terhadap kajian tauhid. Dalam realitas umat, istilah tauhid kadang tidak lagi dipahami hanya sebagai pembahasan tentang keesaan Allah, tetapi sudah dikaitkan dengan kelompok tertentu, kitab tertentu, ustaz tertentu, bahkan corak pemahaman tertentu. Akibatnya, sebelum sebuah kajian dimulai, sebagian jamaah kadang sudah memiliki prasangka terhadap materi yang akan disampaikan. Mereka belum mendengar isinya, tetapi sudah bertanya dalam hati, “Kajian ini kelompok mana?” atau “Kitab apa yang dipakai?”
Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Padahal tauhid seharusnya menjadi titik temu paling dasar bagi seluruh umat Islam. Semua Muslim menyembah Allah yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan meneladani Rasulullah yang sama. Namun dalam praktiknya, perbedaan pendekatan, istilah, dan tradisi keilmuan kadang membuat pembahasan tauhid justru terkesan menjadi milik kelompok tertentu. Karena itulah saya merasa pendekatan dalam menyampaikan kajian harus benar-benar dipertimbangkan agar substansi tauhid dapat diterima tanpa terlebih dahulu terhalang oleh label.
Dalam diskusi dengan takmir, akhirnya kami menemukan kesepahaman. Kajian tetap harus memiliki dasar keilmuan yang kuat, tetapi tidak perlu menonjolkan nama kitab tertentu sebagai identitas utama kajian. Beberapa kitab tauhid tetap dipelajari, dirujuk, dan diambil substansinya, lalu materinya diramu agar sesuai dengan karakter jamaah. Dengan cara itu, jamaah tidak diarahkan untuk sibuk memperdebatkan sumber atau identitas kelompok, tetapi diajak masuk langsung kepada pesan-pesan penting tentang keimanan, penghambaan, ketergantungan kepada Allah, serta dampak tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Pilihan pendekatan tersebut kemudian membawa saya pada satu kesadaran yang cukup penting tentang dakwah. Seorang dai memang harus memiliki ilmu yang luas, membaca banyak kitab, memahami berbagai pendapat, serta mempunyai argumentasi yang kuat. Namun luasnya pengetahuan bukan berarti semuanya harus disampaikan kepada jamaah dalam satu waktu. Ada ilmu yang perlu disampaikan sekarang, ada yang perlu ditunda, ada yang harus disederhanakan, dan ada pula yang lebih baik disampaikan ketika jamaah sudah memiliki kesiapan intelektual dan spiritual yang cukup.
Jamaah tidak selalu membutuhkan istilah yang rumit. Kadang mereka justru membutuhkan jawaban sederhana tentang bagaimana tetap tenang ketika rezeki terasa sempit, bagaimana tetap yakin kepada Allah ketika usaha belum berhasil, bagaimana bersikap ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, atau bagaimana menghadapi kecemasan terhadap masa depan. Pada titik inilah tauhid menjadi sangat dekat dengan kehidupan. Tauhid tidak berhenti pada definisi, tetapi hadir sebagai cara pandang yang membuat seseorang tetap berdiri ketika hidup sedang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Ketika seseorang memahami tauhid dengan baik, ia akan belajar bahwa usaha tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah. Ia belajar bahwa keberhasilan bukan alasan untuk sombong, dan kegagalan bukan alasan untuk kehilangan harapan. Ia mengerti bahwa manusia memang harus bekerja, merencanakan, dan berikhtiar, tetapi hatinya tidak boleh menggantungkan hidup kepada sebab-sebab duniawi semata. Di situlah tauhid berubah dari konsep menjadi kekuatan batin yang memengaruhi sikap seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Pengalaman itu juga mengingatkan saya bahwa dakwah bukanlah ruang untuk menunjukkan seberapa banyak yang kita ketahui. Dakwah justru mengajarkan kemampuan untuk memilih dari sekian banyak pengetahuan, mana yang paling dibutuhkan oleh orang yang sedang kita hadapi. Seorang dai tidak cukup hanya memahami materi, tetapi juga harus memahami manusia. Ia perlu mengetahui latar belakang jamaah, problem mereka, cara berpikir mereka, serta bahasa yang paling mungkin menyentuh hati dan pikiran mereka.
Karena itu, sebelum bertanya “Apa yang ingin saya sampaikan?”, mungkin seorang dai perlu lebih dulu bertanya, “Apa yang sedang dibutuhkan oleh jamaah?” Dua pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi menghasilkan pendekatan yang sangat berbeda. Pertanyaan pertama berpusat pada pembicara, sedangkan pertanyaan kedua berpusat pada mad’u. Dalam dakwah, kemampuan untuk berpindah dari orientasi diri kepada orientasi mad’u adalah bagian penting dari kebijaksanaan dalam menyampaikan ajaran agama.
Dakwah bukan tentang menumpahkan seluruh isi kepala seorang penceramah di depan jamaah. Dakwah juga bukan sekadar menyampaikan semua yang benar tanpa mempertimbangkan kesiapan orang yang mendengarnya. Dakwah adalah proses mengantarkan kebenaran agar dapat dipahami, diterima, dan perlahan menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Karena itu, seorang dai perlu memiliki kepekaan untuk menentukan bahasa, kedalaman materi, ilustrasi, contoh, dan cara penyampaian sesuai dengan kondisi audiensnya.
Pengalaman mengampu kajian tauhid ini memberi saya pelajaran sederhana bahwa dakwah bukan hanya soal isi, tetapi juga soal cara. Kebenaran memang tidak boleh dikurangi, tetapi cara menyampaikannya dapat disesuaikan dengan kondisi mad’u. Seorang dai tidak sedang berdakwah kepada dirinya sendiri, melainkan kepada manusia yang memiliki latar belakang, kemampuan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Karena itulah keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan, tetapi seberapa jauh pesan itu mampu dipahami dan memberi perubahan.
Pada akhirnya, dakwah bukan tentang menyampaikan apa yang kita inginkan, melainkan menyampaikan apa yang dibutuhkan sesuai kemampuan mad’u. Seorang dai boleh memiliki banyak bahan, banyak kitab, dan banyak pengetahuan, tetapi hikmah mengajarkan kita untuk memilih apa yang paling tepat bagi orang yang sedang kita hadapi. Sebab pesan yang benar membutuhkan cara yang tepat, waktu yang tepat, dan bahasa yang tepat agar benar-benar sampai ke hati manusia.